Merajut Nusantara Dorong Generasi Muda Kreatif dan Bijak Bermedia Digital

Jakarta – Kemampuan memanfaatkan teknologi secara kreatif, kritis, dan bertanggung jawab menjadi bekal penting bagi masyarakat di tengah pesatnya perkembangan era digital. Generasi muda didorong tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga mampu menghasilkan karya positif, menyaring informasi, serta menjaga etika dalam membuat dan menyebarkan konten.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Kreatif Berkarya, Cerdas Bermedia, dan Bijak Berkonten” yang diselenggarakan pada Rabu, 14 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan Verrell Bramasta, S.M., Anggota Komisi I DPR RI; Darien Aldiano, Plt. Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi; serta Yanto, Ph.D., akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi Unika Atma Jaya.

Kegiatan ini menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk memahami peluang sekaligus tantangan penggunaan teknologi digital, mulai dari penyebaran informasi, pembuatan konten, hingga pengembangan keterampilan untuk menghadapi perubahan dunia kerja.

Generasi Muda Didorong Menghasilkan Konten Positif

Dalam pemaparannya, Verrell Bramasta menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membuka kesempatan luas bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan peluang ekonomi. Melalui internet, karya dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Namun, kemudahan tersebut juga diiringi berbagai tantangan, seperti penyebaran hoaks, informasi manipulatif, fitnah, dan ujaran kebencian. Konten yang dibuat tanpa mempertimbangkan kebenaran dan dampaknya berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga memicu konflik sosial.

Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya dengan kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan aplikasi. Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi, memahami konteks, dan menilai kredibilitas sumber sebelum mempercayai maupun membagikannya.

Verrell juga mengingatkan pentingnya membedakan kritik dan provokasi. Kritik dapat menjadi sarana menyampaikan masukan untuk perbaikan, sedangkan provokasi berpotensi memancing emosi dan memperkeruh hubungan antarmasyarakat.

Ia berharap generasi muda dapat memanfaatkan ruang digital untuk menghasilkan karya yang bermanfaat sekaligus menerapkan nilai kesopanan, gotong royong, dan sikap saling menghormati dalam berinteraksi di media sosial.

Menurutnya, lingkungan digital yang sehat membutuhkan partisipasi setiap pengguna, baik melalui penyebaran informasi yang benar, pembuatan konten positif, maupun upaya menghindari unggahan yang dapat merugikan orang lain.

BAKTI Komdigi Tekankan Kreativitas dan Etika Bermedia

Sementara itu, Darien Aldiano menyoroti pentingnya memahami peran masyarakat dalam ekosistem digital. Setiap pengguna dapat bertindak sebagai penerima informasi, penyebar informasi, kreator konten, sekaligus warga digital yang memiliki tanggung jawab dalam menjaga ruang komunikasi tetap sehat.

Ia menjelaskan bahwa kreativitas digital dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk karya, seperti tulisan, desain grafis, video, dan konten edukasi. Media digital juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya, produk, serta potensi daerah agar dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.

Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), turut memberikan kemudahan dalam mencari ide, menyusun konsep, dan memproduksi materi visual. Meski demikian, hasil karya tetap perlu diperiksa untuk memastikan ketepatan informasi, menjaga orisinalitas, dan menghormati hak cipta.

Darien juga mengingatkan bahwa informasi yang viral belum tentu benar. Gambar, judul yang menarik perhatian, atau potongan video dapat menimbulkan pemahaman keliru apabila dipisahkan dari konteks aslinya.

Ia menjelaskan perbedaan misinformasi dan disinformasi. Misinformasi merupakan informasi keliru yang disebarkan tanpa harus disertai niat menyesatkan, sedangkan disinformasi merupakan informasi keliru yang sengaja dibuat atau disebarkan untuk memengaruhi dan menyesatkan orang lain.

Selain itu, masyarakat perlu mewaspadai teknologi deepfake yang dapat memanipulasi gambar, suara, atau video sehingga tampak seperti kejadian nyata. Memeriksa sumber dan membandingkan informasi dengan referensi tepercaya menjadi langkah penting sebelum menyebarkan konten.

Dalam membuat konten, pengguna internet juga diimbau menghindari perundungan, ujaran kebencian, dan penyebaran informasi pribadi tanpa izin. Penggunaan karya orang lain harus memperhatikan hak cipta, sementara foto, video, atau data pribadi seseorang sebaiknya dipublikasikan setelah memperoleh persetujuan yang diperlukan.

Melalui kebiasaan tersebut, ruang digital diharapkan menjadi tempat yang mendukung kreativitas, pertukaran pengetahuan, dan interaksi yang saling menghargai.

Keterampilan Digital Menjadi Bekal Menghadapi Masa Depan

Akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi Unika Atma Jaya, Yanto, Ph.D., memaparkan bahwa transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan dunia kerja.

Menurutnya, teknologi menghadirkan peluang untuk belajar tanpa batas geografis, mengembangkan usaha, memasarkan produk, membangun personal branding, hingga menjalin kolaborasi dengan masyarakat di berbagai wilayah.

Berbagai bidang juga menawarkan peluang pengembangan karier, antara lain analisis data, pemrograman, keamanan siber, desain kreatif, pemasaran media sosial, pengembangan gim, bioteknologi, dan industri kreatif.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, generasi muda perlu membangun keseimbangan antara soft skill dan hard skill. Keterampilan nonteknis mencakup komunikasi, kreativitas, kolaborasi, berpikir kritis, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, serta pemecahan masalah. Adapun keterampilan teknis meliputi penguasaan perangkat lunak, analisis data, pemrograman, dan pengelolaan media digital.

Penguasaan bahasa asing juga dinilai penting untuk memperluas akses terhadap pengetahuan dan kesempatan kerja di tingkat internasional. Dalam hal ini, dukungan lembaga pendidikan dan pemerintah diperlukan melalui kurikulum yang relevan, pelatihan keterampilan, serta penyediaan fasilitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Yanto turut mendorong masyarakat mengembangkan ide sederhana menjadi karya bernilai. Potensi lokal, seperti kuliner, budaya, dan pariwisata, dapat diperkenalkan melalui foto, video, podcast, infografis, tulisan, maupun buku digital.

Kolaborasi melalui komunitas, kompetisi, dan proyek bersama juga dapat membantu meningkatkan kemampuan serta menghasilkan karya yang lebih berkualitas. Namun, proses berkarya tetap harus memperhatikan etika, sumber informasi, dan hak cipta.

Bijak Menggunakan Media dan Bertanggung Jawab atas Konten

Yanto menegaskan bahwa cerdas bermedia bukan sekadar aktif menggunakan media sosial, melainkan juga mampu menilai informasi secara kritis, menjaga keamanan akun, melindungi data pribadi, dan memahami jejak digital.

Ia mengingatkan bahwa penggunaan internet perlu diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat jangka panjang, termasuk belajar dan meningkatkan keterampilan. Waktu di ruang digital sebaiknya tidak hanya dihabiskan untuk hiburan, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi diri.

Sementara itu, bijak berkonten berarti mempertimbangkan kebenaran informasi, manfaat, etika, dan kemungkinan dampak sebelum suatu unggahan dipublikasikan. Kreator juga perlu menghormati privasi orang lain dan memastikan materi yang digunakan tidak melanggar hak pihak lain.

Perhatian terhadap perlindungan anak di ruang digital turut menjadi bagian penting dalam pembahasan. Anak-anak dan generasi muda perlu mendapatkan pendampingan agar terhindar dari konten yang tidak sesuai usia serta berbagai risiko penggunaan internet.

Yanto menekankan bahwa keberhasilan sebuah karya tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah penonton atau popularitasnya. Nilai sebuah konten juga ditentukan oleh manfaat, kualitas informasi, dan tanggung jawab pembuatnya terhadap audiens.

Bangun Ruang Digital yang Sehat dan Produktif

Melalui kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara, ketiga narasumber mengajak masyarakat untuk menjadikan teknologi sebagai sarana berkarya, belajar, berinovasi, dan memperluas peluang.

Kreativitas perlu disertai kemampuan berpikir kritis, sedangkan kebebasan berekspresi harus berjalan bersama etika dan tanggung jawab. Masyarakat juga perlu membiasakan diri memverifikasi informasi, menjaga privasi, menghormati hak cipta, serta menghindari penyebaran konten yang merugikan orang lain.

Dengan meningkatkan literasi digital dan keterampilan yang relevan, generasi muda diharapkan mampu menghadapi perubahan teknologi sekaligus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan digital yang aman, santun, dan produktif.

Pemanfaatan teknologi secara bijak pada akhirnya bukan hanya tentang kemampuan mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga tentang bagaimana setiap individu memberikan manfaat melalui karya dan perilaku digital yang bertanggung jawab.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *