Seminar Merajut Nusantara Ajak Masyarakat Kenali Modus Penipuan Digital dan Lindungi Data Pribadi

Jakarta – Kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk penipuan di ruang digital. Melalui peningkatan literasi digital, masyarakat diharapkan mampu mengenali pola kejahatan siber, menjaga keamanan informasi pribadi, serta mengetahui langkah yang perlu dilakukan ketika menjadi korban.

Perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, bertransaksi, dan memperoleh informasi. Namun, kemajuan tersebut juga diikuti dengan meningkatnya risiko kejahatan siber, termasuk penipuan yang memanfaatkan kelengahan dan minimnya pemahaman pengguna internet.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Memahami dan Menghindari Penipuan Digital” yang diselenggarakan pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Rachel Maryam Sayidia, Plt. Direktur Sumber Daya BAKTI KOMDIGI Wahyu Arvianto, serta akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi Unika Atma Jaya, Yanto, Ph.D.

Ketiga narasumber membahas berbagai bentuk penipuan daring, faktor yang membuat masyarakat rentan menjadi korban, serta upaya pencegahan yang dapat diterapkan dalam aktivitas digital sehari-hari.

Penipuan Digital Terus Menjadi Ancaman

Dalam pemaparannya, Rachel Maryam Sayidia menjelaskan bahwa penipuan digital merupakan tindakan menyesatkan seseorang melalui perangkat, platform, atau layanan berbasis teknologi untuk memperoleh keuntungan secara tidak sah.

Modus yang digunakan semakin beragam, mulai dari pesan palsu yang menyerupai lembaga resmi, manipulasi psikologis, penawaran investasi fiktif, hingga penipuan melalui media sosial dan aplikasi yang tidak terpercaya.

Pelaku umumnya berusaha membangun kepercayaan korban sebelum meminta informasi sensitif atau mendorong mereka mengirimkan sejumlah uang. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi dan tidak terburu-buru menanggapi pesan yang mencurigakan.

Rachel juga menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan kode OTP, PIN, kata sandi, serta informasi pribadi lainnya. Pengguna internet disarankan menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, dan melaporkan aktivitas yang terindikasi sebagai penipuan.

Laporan Penipuan Menunjukkan Pentingnya Kewaspadaan

Wahyu Arvianto menyampaikan bahwa penanganan penipuan digital membutuhkan keterlibatan masyarakat, lembaga keuangan, regulator, dan aparat penegak hukum.

Dalam paparannya, ia mengutip data OJK dan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang mencatat lebih dari 700 ribu laporan penipuan selama periode November 2024 hingga September 2026. Ia juga menyebutkan bahwa dana sekitar Rp81,8 miliar telah berhasil diblokir.

Data tersebut menggambarkan pentingnya kewaspadaan dalam melakukan transaksi daring. Masyarakat perlu memeriksa identitas pihak yang menerima pembayaran, memastikan keabsahan penawaran, dan menghindari transfer dana hanya karena tekanan atau janji keuntungan besar.

Wahyu mengingatkan bahwa penipuan dapat terjadi melalui berbagai saluran, termasuk komunikasi pribadi, platform perdagangan daring, dan penawaran investasi. Pesan yang mendesak penerima untuk segera bertindak tanpa memberikan waktu untuk melakukan pemeriksaan patut dicurigai.

Kenali Tanda-Tanda Penipuan Sejak Awal

Yanto, Ph.D., menyoroti bahwa kerentanan terhadap penipuan digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan cara seseorang mengambil keputusan.

Mengacu pada data yang disampaikannya dari Global Fraud Index 2025, Indonesia memperoleh skor 6,5. Ia juga memaparkan hasil survei Global Anti Scam Alliance 2025 terhadap 1.000 orang dewasa pada Februari–Maret 2025, yang mencatat bahwa 66 persen responden pernah mengalami penipuan, 35 persen menjadi korban, dan 14 persen mengalami kerugian finansial.

Dalam pemaparan yang sama, total kerugian disebut mencapai Rp49 triliun, dengan rata-rata kerugian sekitar Rp1,7 juta. Angka-angka tersebut merupakan data yang disampaikan narasumber dalam kegiatan dan perlu diperiksa kembali terhadap sumber aslinya sebelum dipublikasikan.

Yanto menjelaskan bahwa penipuan dapat berbentuk beragam, seperti penipuan asmara (romance scam), lowongan kerja palsu, transaksi di marketplace, pinjaman ilegal, donasi fiktif, hingga penggantian kode QRIS untuk mengalihkan pembayaran.

Pelaku juga dapat memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk membuat suara atau video tiruan (deepfake), serta menyamar sebagai pihak perusahaan melalui email untuk mengelabui penerima.

Menurutnya, pelaku sering memanfaatkan emosi seperti rasa takut, rasa kasihan, ketertarikan, dan keinginan memperoleh keuntungan cepat. Kondisi emosional tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan tanda bahaya dan tidak melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Langkah Praktis Menjaga Keamanan Digital

Untuk mengurangi risiko menjadi korban, masyarakat perlu membangun kebiasaan aman ketika menggunakan layanan digital. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Periksa identitas pengirim. Pastikan pesan, akun, nomor telepon, atau alamat situs benar-benar berasal dari pihak yang diklaim.
  2. Jangan membagikan informasi rahasia. Kode OTP, PIN, kata sandi, dan data sensitif tidak boleh diberikan kepada pihak lain.
  3. Waspadai tawaran yang terlalu menggiurkan. Janji keuntungan besar, hadiah tanpa kejelasan, atau pekerjaan dengan imbalan tidak masuk akal perlu diperiksa secara cermat.
  4. Lakukan verifikasi melalui saluran resmi. Hubungi lembaga atau perusahaan menggunakan kontak yang ditemukan dari situs resmi, bukan semata-mata nomor yang dikirimkan oleh pihak mencurigakan.
  5. Gunakan perlindungan akun. Terapkan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk akun penting, serta aktifkan autentikasi dua faktor jika tersedia.
  6. Periksa tujuan pembayaran. Sebelum mentransfer uang atau memindai kode QRIS, pastikan nama penerima dan informasi transaksi sesuai.
  7. Jangan mengambil keputusan karena tekanan. Permintaan transfer segera, ancaman, atau desakan merahasiakan transaksi bisa menjadi tanda adanya manipulasi.
  8. Batasi penyebaran data pribadi. Hindari membagikan informasi sensitif secara terbuka di media sosial maupun melalui formulir yang belum jelas keamanannya.

Literasi digital juga perlu diterapkan ketika menerima konten berupa foto, suara, atau video yang tampak meyakinkan. Jika suatu pesan meminta uang atau informasi penting atas nama orang yang dikenal, lakukan konfirmasi melalui jalur komunikasi lain sebelum menindaklanjutinya.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Telanjur Menjadi Korban?

Masyarakat yang menduga telah mengalami penipuan sebaiknya segera mengambil langkah untuk membatasi kerugian. Wahyu Arvianto menyarankan agar korban menghentikan komunikasi dengan pelaku dan menyimpan bukti yang tersedia, seperti tangkapan layar percakapan, nomor rekening, bukti transfer, nomor telepon, serta tautan terkait.

Korban juga perlu segera menghubungi bank atau penyedia layanan uang elektronik yang digunakan untuk melaporkan transaksi mencurigakan dan menanyakan langkah pengamanan yang dapat dilakukan.

Laporan dapat diteruskan melalui kanal resmi Indonesia Anti-Scam Centre atau OJK, serta kepada kepolisian sesuai dengan situasi yang dialami. Semakin cepat laporan disampaikan, semakin besar peluang pihak terkait menindaklanjuti informasi dan mengambil langkah yang diperlukan. Namun, pemulihan dana tidak dapat dijamin dalam setiap kasus.

Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap pihak yang mengaku dapat mengembalikan uang korban dengan meminta biaya tambahan atau data rahasia. Tawaran semacam itu berpotensi menjadi penipuan lanjutan.

Membangun Budaya Digital yang Lebih Aman

Sosialisasi Merajut Nusantara menegaskan bahwa perlindungan dari penipuan digital tidak cukup hanya mengandalkan teknologi keamanan. Kemampuan berpikir kritis, kebiasaan melakukan verifikasi, dan kesadaran dalam melindungi data pribadi turut berperan penting.

Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya pada pesan atau tawaran yang belum teruji kebenarannya. Dengan meningkatkan literasi digital dan memahami cara melaporkan dugaan penipuan, pengguna dapat lebih siap menghadapi risiko di ruang digital.

Pada akhirnya, menciptakan lingkungan digital yang aman membutuhkan partisipasi bersama. Sikap waspada sebelum mengeklik tautan, membagikan informasi, atau melakukan transaksi dapat menjadi langkah sederhana untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *