Jakarta – Pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi kunci bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan menjaga keberlanjutan usaha. Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Optimalisasi Teknologi Digital untuk Pengembangan UMKM Berkelanjutan”. (18/8)
Anggota Komisi I DPR RI, Dr. H. Jefry Romdonny, M.Si., M.M., mengatakan digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi kebutuhan bagi UMKM dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen.
Menurutnya, pelaku UMKM tidak lagi cukup mengandalkan toko fisik. Produk harus hadir di berbagai ruang digital seperti Google, WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga marketplace.
Jefry menilai Majalengka memiliki potensi UMKM yang besar, mulai dari sektor pertanian, kuliner, kerajinan, hingga usaha kreatif. Infrastruktur seperti Tol Cipali dapat mempercepat distribusi, tetapi teknologi digital diperlukan agar produk lebih mudah dikenal dan menjangkau konsumen di berbagai daerah.
Ia menekankan tiga hal penting bagi UMKM dalam transformasi digital, yakni meningkatkan literasi digital, mendorong inovasi, serta memperkuat kolaborasi. Pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan juga dapat membantu promosi, desain produk, serta strategi pemasaran.
Sementara itu, Ir. Woro Indah Widiastuti, MT., ICT Regulatory dan USO Expert IICF, menjelaskan pentingnya pemerataan konektivitas digital, khususnya di wilayah 3T. Melalui berbagai program BAKTI, pembangunan infrastruktur digital diarahkan untuk membuka akses internet sekaligus mendorong pemberdayaan UMKM.
Menurutnya, UMKM perlu memanfaatkan marketplace, media sosial, pembayaran digital, hingga sistem pengelolaan usaha berbasis teknologi. Digitalisasi dapat membantu pelaku usaha memperluas pasar, mengelola stok, meningkatkan efisiensi, serta membangun rekam transaksi yang mendukung akses pembiayaan.
Senada, M. Zainul Hafizi, M.Pd., Dosen-Asisten Ahli Universitas Tanjungpura, menegaskan bahwa digitalisasi merupakan kebutuhan bagi keberlangsungan bisnis.
Ia menjelaskan bahwa transformasi dapat dimulai dari hal sederhana, seperti penggunaan WhatsApp Business, QRIS, marketplace, media sosial, hingga pemanfaatan data dan AI. Teknologi tersebut harus dipilih berdasarkan kebutuhan bisnis dan diterapkan secara bertahap.
Zainul juga memperkenalkan pendekatan “Mulai – Ukur – Tingkatkan”. UMKM didorong untuk memulai dari teknologi sederhana, mengukur hasilnya, kemudian meningkatkan dan mengintegrasikan sistem sesuai kebutuhan.
Para narasumber sepakat bahwa teknologi digital bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan UMKM yang lebih produktif, kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.
Transformasi tersebut membutuhkan dukungan bersama antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, lembaga keuangan, dan platform digital. Dengan kolaborasi dan kemauan untuk terus belajar, UMKM Majalengka diharapkan mampu naik kelas dan bersaing di pasar nasional maupun global.



