Geopolitik Memanas, DPR Ingatkan Dampaknya ke Investasi dan Perdagangan Global

Foto para narasumber, paling kiri Dr. Usman Kansong, S.Sos, M.Si tengan Prof. Dr. (H.C) H. Abdul Halim Iskandar, M.Pd Anggota Komisi I DPR RI, paling Kanan Dr. Dewi Fitrotus Sa'diyah, M.E.I

Jakarta – Dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan dan investasi dunia. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam webinar literasi digital bertema “Akselerasi Investasi dan Perdagangan Global” yang digelar Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital bersama Anggota Komisi I DPR RI Abdul Halim Iskandar, Kamis (5/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Intel Studio Pasar Minggu, Kompleks TNI AL, Jakarta Selatan itu menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan praktisi komunikasi digital dan akademisi untuk membahas strategi Indonesia menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Anggota Komisi I DPR RI Abdul Halim Iskandar menilai perkembangan geopolitik dunia saat ini perlu diwaspadai karena dapat berdampak langsung pada kondisi ekonomi global, termasuk kenaikan harga barang dan terganggunya arus perdagangan internasional.

Menurutnya, ketegangan yang terjadi di berbagai kawasan dunia berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi global yang pada akhirnya juga dirasakan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Ia mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan tersebut dan berupaya menyiapkan langkah antisipasi. Presiden Prabowo Subianto, kata dia, bahkan telah mengundang sejumlah tokoh untuk berdiskusi guna memperoleh masukan terkait langkah strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Situasi geopolitik global tentu harus kita pahami bersama karena dampaknya bisa dirasakan langsung terhadap kondisi ekonomi, termasuk harga barang dan aktivitas perdagangan,” ujarnya.

Sementara itu, praktisi komunikasi digital Usman Kansong menjelaskan bahwa perubahan geopolitik dan geoekonomi global menuntut setiap negara untuk bergerak lebih cepat dalam memperkuat investasi dan memperluas perdagangan internasional.

Menurutnya, pemerintah menargetkan percepatan investasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia menargetkan realisasi investasi mencapai Rp13.032 triliun pada periode 2025–2029 dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 15,7 persen per tahun.

Target tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen pada tahun 2029.

Untuk mencapai target itu, pemerintah melakukan berbagai strategi, mulai dari penguatan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, penyederhanaan perizinan melalui sistem digital, hingga penguatan Satuan Tugas (Satgas) Investasi yang mengawal proses investasi dari awal hingga terealisasi.

Selain itu, pemerintah juga memberikan berbagai insentif pada proyek strategis nasional seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta pengembangan kawasan industri, salah satunya Kawasan Industri Batang.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dinamika perdagangan global tetap menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari meningkatnya proteksionisme hingga konflik antarnegara yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.

“Gangguan rantai pasok bisa memicu kenaikan biaya logistik dan menimbulkan ketidakpastian pasar. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat strategi diversifikasi pasar ekspor agar tidak bergantung pada satu kawasan,” kata Usman.

Pandangan serupa disampaikan akademisi Dewi Fitrotus Sa’diyah yang menilai dunia saat ini tengah memasuki fase baru yang lebih kompleks. Ia menyebut perubahan tersebut sebagai pergeseran dari era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).

Dalam situasi tersebut, menurutnya, pelaku ekonomi tidak hanya dituntut adaptif tetapi juga harus mampu membangun sistem ekonomi yang lebih tangguh dan inovatif.

Meski diwarnai ketidakpastian global, ia menyebut investasi internasional masih menunjukkan optimisme. Proyeksi Foreign Direct Investment (FDI) global diperkirakan meningkat sekitar 14 persen hingga mencapai USD 1,6 triliun pada 2025, terutama di sektor teknologi hijau, digitalisasi, dan energi terbarukan.

Namun, ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionisme tetap menjadi tantangan besar bagi stabilitas perdagangan global.

Di sisi lain, model perdagangan global juga mulai mengalami perubahan. Sistem Just-in-Time yang selama ini mengutamakan efisiensi mulai bergeser menuju model Just-in-Case yang lebih menekankan pada keamanan pasokan dan cadangan logistik.

Menurut Dewi, percepatan digitalisasi menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan tersebut. Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Blockchain, dan Internet of Things (IoT) dinilai mampu meningkatkan efisiensi logistik sekaligus memperkuat transparansi dalam perdagangan internasional.

Selain itu, platform perdagangan digital juga membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah (UKM) untuk menembus pasar global.

Melalui forum literasi digital ini, para narasumber berharap masyarakat dapat memahami dinamika investasi dan perdagangan global sekaligus meningkatkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi dunia yang semakin kompleks.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *