Jakarta – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital menyelenggarakan webinar bertajuk “Pembangunan Desa, Koperasi, dan UMKM” pada Selasa (10/3). Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari unsur legislatif, akademisi, serta pegiat literasi digital untuk membahas strategi memperkuat ekonomi desa di tengah perkembangan teknologi dan dinamika global.
Anggota Komisi I DPR RI, A. Halim Iskandar, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para narasumber yang telah berbagi pandangan dalam forum tersebut. Ia juga memberikan penghargaan kepada Donny B.U. selaku Ketua Siberkreasi yang dinilai berkontribusi besar dalam mendorong peningkatan literasi digital di Indonesia.
Menurut Halim, literasi digital masih menjadi tantangan bagi masyarakat. Banyak warga yang belum memiliki kemampuan untuk menyaring maupun memverifikasi informasi yang beredar di internet sehingga rentan terpapar hoaks atau informasi yang tidak akurat.
Ia juga menyinggung kondisi global yang saat ini dipenuhi berbagai dinamika, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang salah satunya dipicu oleh ketimpangan informasi. Dalam menghadapi berbagai persoalan tersebut, masyarakat diharapkan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Lebih lanjut, Halim menilai topik pembangunan desa, koperasi, dan UMKM sangat relevan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penguatan ekonomi di tingkat desa dinilai berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup warga, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar keluarga serta upaya pencegahan stunting.
Ia juga menegaskan bahwa koperasi merupakan salah satu instrumen penting dalam penguatan ekonomi kerakyatan. Sistem koperasi yang berbasis kebersamaan dinilai mampu menjadi wadah bagi masyarakat desa untuk mengelola kegiatan ekonomi secara kolektif dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Sementara itu, Co-Founder ICT Watch, Donny B.U., menjelaskan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 75 ribu desa dengan sekitar 40 persen penduduk tinggal di wilayah pedesaan. Saat ini desa mulai memasuki era digital seiring meningkatnya akses internet, meski kesenjangan konektivitas antara desa dan kota masih menjadi tantangan.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi desa. Pelaku UMKM dan koperasi dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar serta meningkatkan nilai produk lokal. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus diimbangi dengan literasi digital yang baik, termasuk pemahaman terkait keamanan digital dan penggunaan teknologi secara produktif.
Donny juga menilai koperasi modern memiliki peran penting dalam membangun ekosistem ekonomi desa. Dengan pengelolaan yang lebih profesional dan dukungan digitalisasi, koperasi dapat membantu pelaku usaha memperluas jaringan distribusi serta meningkatkan daya saing produk.
Di sisi lain, akademisi Universitas Surabaya, Supriyanto, menegaskan bahwa desa merupakan fondasi utama dalam pemerataan ekonomi nasional yang inklusif. Penguatan koperasi dan UMKM dinilai menjadi motor penggerak produktivitas sekaligus pencipta lapangan kerja di tingkat lokal.
Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi desa. Sekitar 43 persen desa di Indonesia masih tergolong tertinggal, sementara sekitar 38 persen wilayah desa belum memiliki akses internet yang stabil. Selain itu, tingkat literasi finansial pelaku usaha desa juga masih relatif rendah.
Sebagai solusi, ia memperkenalkan Program Koperasi Desa Merah Putih yang menargetkan pembentukan sekitar 80 ribu koperasi di seluruh Indonesia, terdiri dari 75 ribu koperasi di desa dan 5 ribu koperasi di kelurahan.
Program tersebut didukung oleh alokasi anggaran sekitar Rp34,57 triliun yang bersumber dari Dana Desa untuk membangun berbagai fasilitas ekonomi seperti gudang, gerai koperasi, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Pemerintah juga menyiapkan skema pembiayaan dengan plafon pinjaman hingga Rp3 miliar per koperasi dengan bunga rendah sekitar enam persen dan tenor yang panjang. Skema ini diharapkan dapat membantu koperasi berkembang tanpa terbebani biaya modal yang besar.
Supriyanto juga menekankan pentingnya digitalisasi dalam mendorong pertumbuhan UMKM desa. Dengan pelatihan pemasaran digital dan manajemen keuangan, produk-produk desa diharapkan mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.
Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, lembaga keuangan hingga media, untuk bersinergi membangun ekosistem ekonomi desa yang kuat sehingga desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional.



